News Update :
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Woh.!! Warga temukan "Ular Besar" di Mokumani

Penulis : methu badii on 19 Nov 2015 | 09:12

Deiyai, Kabarpugay--Hari Minggu, 8 November 2015, sekitar jam 4 sore, warga Mokumani, desa Piyakedimi, Distrik Tigi barat, dikagetkan adanya “Ular besar berbintik kuning” melintang diatas jalan raya,
Ular panjang tersebut, pertama ditemukan, seorang pemuda, Yupentus Bobii, saat dia menuju ke Mokumani dari nayauwo, sampai  depan rumahnya Neles Pigome, tampak ada benda hitam melintang di jalan raya,
Yupen mulai mendekati dan lihat baik-baik, ternyata ular besar melintang panjang dari tumpukan pagar ke arah sebelah jalan, Yupen takut dan berteriak,Waee… ular, ular, ular, ada ular besar,
dengar Yupentus berteriak, banyak   warga dari tiga kampung, Mokumani, kagaitadi dan nayauwo, berlarian mendatangi tempat ditemukan ular besar dan panjang itu,
orang pertama yang sampai di tempat itu, Petronella Pigome dan Yohana Bobii, kedua orang ini mengambil kayu  dan bersahan usir ular  kearah kali umagoyauwo namun  mereka takut lalu dibiarkan, 

warga yang datang lihat ular itu, semakin banyak,  Mesak Pigome  dan kawan  datang dari kagaitadi, mesak berniat tangkap ular tersebut, mesak mulai mendekati ular, dia  pelan-pelan pegang  dari ekor naik ke  kepalah,  namun ular tersebut melawan bahkan rem ditanah, 

 kemudian Mesak dibantu kawan  rekan lain paksa  pegang  dan  angkat ular,  lalu mesak gantungkan ular itu, di bahu kanan dan kiri,mulai perlihatkan kepada warga mokumani dan kagaitadi dan kampung lain,
 banyak warga yang takut melihat ular itu karena  jarang ditemukan ular seperti itu, Akulian Pigome,warga  kampung digikotu, dia merasa takut bahkan minta Mesak Pigome lepaskan lar tersebut,
 “wae… mesakh…hati-hati, jangan bawa kemana2, nanti  bahaya, kamu berani sekali, ini bahaya buat kamu sendiri dan orang lain, kata selpina marah sama mesak,
Selpinan marah kerena, menangkap ular baru dilakukan mesak dikampung mokumani, ada seorang pemuda yang sempat lewat mengatakan, ular itu buang didanau atau dihutan, kalau dibiarkan disini akan membahayakan warga sekitarnya,

Karena hal yang sama pernah terjadi di kampung saya,ular semacam itu menyerkap binatang piaraan saya,  pernah masuk sampai dibawah tunggku api dan dapat memhayakan kamu sendiri,katanya,

dengar apa yang disampiakan orang itu, Mesak  dilepaskan ular dari bahunya dan dibuang  kali umagoyau, tidak jauh dari tempat tangkap ular itu, 

diketahui, pada Tahun 2014, pernah  ditemukan ular yang sama dalam rumah Oktovia Badii dimokumani, katanya ular itu besar dibagian lehernya ada  tulisan "AWI"  (Yosep Badii, Kabar Pugay)
komentar | | Read More...

Syukuran "Wisuda"

Penulis : methu badii on 18 Nov 2015 | 03:45


Sebanyak empat mahasiswa papua, asal Meuwodide Nabire,Paniai,Dogiyai dan Deiyai) kota Study Bandung, telah menyelesaikan kuliah pada Tahun 2015, empat mahasiswa yang selesai kuliah tersebut, diantaranya dua orang laki-laki dan  dua orang perempuan, nama dan gelar mereka sebagai berikut..?
Mateus Badii, S.AP, Selesai dari Universitas Pasundan Bandung dan Salmon Keiya S.E tamat dari STIE Gema Widya Bangsa,Djatinangor,sedangkan  Martina Mote S.E dan Yuliana Doo S.E selesai dari Univesitas Sangga Buana Bandung, mereka mengakhiri study strata satu (1), setelah melalui 5 Tahun menimbah Ilmu di tanah Pasundan, Bandung, Jawa Barat.

 atas keberhasilan itu, pada tanggal 17 Oktober 2015, diadakan “Ibadah Syukuran Wisuda” mulai jam 6 :00 wib  berjalan hingga jam 9:00 wib, di Gedung GMKI, Jln Dago, Kota Bandung,

spanduk bertulisan “Ibadah Syukuran Wisuda” dengan Thema “ Bersyukur dalam segala hal, subthema“kami diutus Untuk Masa Depan Bangsa” spanduk besar hasil design Natho Pigay  dilengkapi dengan foto wisudawan dan itu terpampang depan,
puluhan pelajar,mahasiswa  dan orang tua dari wisudawan berdatangan ke tempat acara syukuran, ada yang bawah gitar, keyboard serta kamera digital,orang tua  yang datang dari papua  ikut acara wisuda, duduk berjejer disebelah kiri membelakangi wisudawan,

sebelah kanan terlihat  pengkotbah dan  giratis serta keyboater, duduk menanti ibadah syukuran yang akan mulai beberapa saat, pembawa Acara, Ety Nokuwo, mengajak   hadirin angkat lagu yang diambil dari madah bakti (buku nyanyian gereja katholik) sebagai lagu pembukaan,

Simon Kotouki, kutik Gitar mengikuti instumen keyboater Ukagoumau mengiringi semua lagu, mulai dari lagu pembukaan, lagu persembahan serta lagu  penyambuatan Pengkotbah,  

renungan Firman Tuhan disampikan  Deky Ogetay, mahasiswa senior di kota Bandung, dalam kotbah  Ogetay mengatakan, masa mudah itu masah yang indah, manfaatkan waktu yang ada untuk menentukan masa depan, jangan sia-siakan waktu, kita harus bersyukur, selagi Tuhan masih memberi kita waktu,
Seperti tertulis dalam thema “besyukur dalam segala hal” waktu susah harus bersyukur, karena Tuhan menguji sejauh mana kita bersabar, seperti mereka yang sudah wisuda adalah hasil dari kesabaran, sambil berjuang mengorbankan waktu, uang dan tenaga hanya untuk mengejar ilmu pengengetahuan dibangku kuliah selama beberapa Tahun,

Kepada kalian yang sudah wisuda, bukan berarti akhir dari segalanya, masih ada diperjuangan lain, milikilah jiwa optimis  untuk kedepan, jangan ada pesimis, hidup harus mempunyai mimpi, kita harus kejar untuk wujudkan mimpi itu, Jelas Ogetay dihadapan puluhan mahasiswa yang hadir dalam acara syukuran itu,

hidup ini kita jangan jadikan pesimis dimana selalu  ada kekwatiran, takut banting, putus asah, mesti ada optimis, memandang kedepan bahwa ada harapan untuk sukes, manfaatkan waktu yang ada, harus bersyukur, berani bayar harga walaupun rasanya berat, Tuhan Berkati Kita, kata Ogetay menutup kotbah singkat,

setelah selesai kotabah, kesan dan pesan disampaikan sejumlah ornag, mulai dari ketua Ikatan Mahasiswa Se-Tanah papua (Imasepa) Bandung Jawa barat, Jack Peyon tidak hadir  dilanjutkan Ketua Ipmanapandodei Bandung, Mateus Tekege, mengatakan, selamat kepada kawan-kawan yang sudah wisuda, dalam kesibukan kuliah selalu memberikan kontribusi terhadap organisasi, mari kita belajar dari keberhasilan mereka, keberhasilan kita jadikan ukuran bagi  kita yang masih duduk dibangku kuliah, tutur Mateus Tekege,

semoga ilmu yang sudah dapat selama kuliah, bisa membangun tanah papua umumnya dan khususnya daera meuwodide (Nabire,paniai,dogiyai dan deiyai) menjadi lebih baik dari sekarang, pesan dari Kotoukibo alumni bandung,

kami senang karena sudah selesai kuliah, kalian akan kembali ke  masyarakat, berharap anda menjadi, pemikir, perubah, pemberi solusi atas masalah yang   sedang selimuti bangsamu di negeri cendrawasih, kata paitua keiya dalam kesan pesan meakili orang tua,

kemudian wisudawan diarahkan untuk berdiri mengambil tempat didepan untuk mendapat salamsukses” dari orang tua, pelajar dan mahasiswa dan senioritas serta alumni yang ada di kota bandung,

saling jabah tangan juga berpeluk hangat dari kawan, adik dan kak, saat itu rasanya air mata mau jatuh tapi, ya itulah momentum dimana kita bisa berpikir kembali, apa yang pernah kami rasakan suka dan duka  bagimana kehidupan mahasiswa di tanah rantauwan,

juru kamera, Jebulon Bunai, mengabadikan foto dan video acara syukuran dari awal sampai akhir, foto  pertama wisudawan, kedua dengan orang tua, ketiga, foto bersama saabat-saabat  pelajar dan mahasiswa Mee yang ada di kota study bandung.

Kegiatan berlangsung selama 3 jam berjan aman,mahasiswa senior, Deky Ogetai, menutup semua rangkaian acara dengan doa penutup sekalian doa  makann,

tiba saatnya makan…makanan yang disiapkan wisudawan dan wisudawati, sebalum makan, duduk kempok mengelilingi  ruangan yang digunakan acara syukuran, ekina, nota dan sayur serta sambal dibagikan, makan bareng sambil  cerita-cerita terlihat ramai  ketika itu,

Penulis MethuCs
komentar | | Read More...

Tamu atau Pencuri

Penulis : methu badii on 16 Feb 2015 | 17:53

Seseorang atau sekelompok orang yang berkunjung ke rumah orang lain adalah tamu. Sebagai tamu, ketika sampai di rumah orang yang hendak dikunjungi, tentu saja hal pertama yang dilakukan adalah mengetuk pintu dan/atau memberi salam dengan santun. Selanjutnya tamu bisa masuk ke rumah orang yang dikunjungi apabila diizinkan oleh tuan rumah. Ini adalah etika universal, yang berlaku dalam hampir semua kebudayaan di dunia. 

Hal yang berbeda adalah pencuri. Seseorang atau sekelompok orang yang hendak mencuri di rumah atau tempat orang lain, tentu saja tidak akan memberi tahu pemilik rumah atau tempat tertentu mengenai aksi pencuriannya. Selanjutnya, dengan penuh rahasia pencuri melaksanakan aksinya, bahkan hingga dapat membunuh tuan rumah atau pihak lainnya yang dinilai mengetahui dan/atau menghalangi aksi bejatnya. Dalam aksi pencurian tidak ada nilai etikanya, karena semuanya dilaksakan dengan motif jahat.

Apakah para migran (orang non-asli Papua) yang masuk ke Papua dari luar Papua secara liar dalam jumlah besar setiap hari adalah tamu atau pencuri? Jawabannya tentu beraneka ragam sesuai dengan kapasitas dan kepentingan masing-masing orang. Mayoritas orang asli Papua tentu saja akan mengatakan mereka adalah “pencuri” (bahkan disebut “penjajah”), yang hendak menduduki dan mencuri (menjajah) Papua. Para migran tentu saja tidak akan merasa dan mengakui dirinya sebagai pencuri (penjajah), karena merasa berhak ke Papua dan menetap sebagai bagian dari wilayah NKRI. 

Pemerintah sudah tentu apatis dengan migrasi ini dan justru menganggapnya sebagai hal yang wajar atau semestinya, bahkan dianggap legal untuk menyebarkan penduduk dari wilayah yang padat penduduknya di wilayah yang jarang penduduknya seperti Papua. 

Tetapi jika melihat proses migrasi dan motif yang tekandung di dalamnya secara obyektif, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai aksi pendudukan dan penjajahan. Para migran berperilaku seperti pencuri. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa alasan. 

Pertama, tindakan migrasi dilakukan secara ilegal. Tak ada dasar hukum apapun yang memperbolehkan mereka memasuki dan menduduki Papua, aturan perundang-undangan yang mengatur tentang kependudukan (misalnya Perdasi tentang Kependudukan) dilanggar, bahkan urusan administrasi kependudukan juga diabaikan begitu saja. Kedua, arus migrasi dan jumlah migran tak terkendalikan. Migrasi terjadi setiap hari, yang kedatangannya melalui kapal laut dan pesawat udara, yang jumlahnya diperkirakan ribuan bahkan ratusan ribu orang setiap hari. Ketiga, pemerintah sangat apatis terhadap proses migrasi liar dan besar-besaran ini.

 Wilayah Papua dengan status khusus dalam politik dan pemerintahan di Indonesia justru dibaikan, tidak ada kebijakan dan tindakan afirmasi untuk meproteksi orang asli Papua, termasuk dari ancama pendudukan dan penjajahan wilayah Papua oleh para migran. Keempat, besarnya arus migrasi para migran dan tindakan apatis pemerintah justru mengindikasikan kuatnya motif politik dan ekonomi untuk kepentingan mereka semata.

 Pemerintah mempunyai kepentingan mempertahankan wilayah Papua dalam NKRI, menjadikan wilayah Papua sebagai “lumbung ekonomi” Indonesia, dan menjadikan wilayah Papua sebagai wilayah tujuan penyebaran penduduk. Sedangkan para migran sendiri mempunyai kepentingan “mencari makan” dan “memperkaya diri” di Papua, karena di tempat asalnya cenderung miskin (bahkan mayoritasnya “miskin absolut”). Kelima, para migran dan pemerintah mengabaikan etika, moral, dan proses pemerintahan dan pembangunan yang baik dan benar. Mereka “tidak mampu” untuk menilai kebaikan dan kebenaran tindakannya. 

Mereka tidak mempunyai belas kasihan, tidak mempunyai kemauan baik untuk melindungi orang asli Papua sebagai warga negara minoritas dalam NKRI, dan tidak melaksanakan ketentuan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua.

Sekarang, masihkah kita mau menyangkal kejahatan migrasi liar dan besar-besaran, yang para migrannya bersama pemerintah bersama-sama sedang menduduki dan menjajah Papua ini..?

Penulis:OdiyaipaiDumupa adalah Penulis Buku Soal Papua
komentar | | Read More...

Taman Gizi :Taman Kematian

Penulis : methu badii on 3 Feb 2015 | 23:56


Seperti biasanya, taman itu masih ramai dikunjungi orang. Kini sudah tengah malam, namun di taman  tanpa bunga ini ada beberapa pace sedang bercanda-gurau. Mereka asyik berbagi ceritera, bertukar pengalaman, dan kadang kala mereka saling bertengkar sendiri dalam lingkarang kecil itu.


Aku masih berdiri menyaksikan pertengkaran kecil-kecilan yang sedang terjadi, dari samping pagar biru yang warna cetnya mulai terkupas-kupas itu.


Rupanya, empat pace itu dengan asyik menggilir segelas minuman beralkohol di taman itu. Di atas panggung tanpa dinding yang berdiri kokoh di ujung bibir pante itulah, mereka menikmati dinginnya hawa malam dan bermacam-macam merek minuman beralkohol.


Hawa dingin dan nyamuk-nyamuk yang hilir-mudik menyambar dan mengisap darah mereka, tak sanggup membuat mereka gerah.Sepertinya mereka kebal terhadap hal-hal semacam ini atau, mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu.


Bulan terang itu masih setia menerangi mereka dalam gelapnya malam Nabire. kini, ia sudah bergeser ke arah selatan namun cahayanya masih menyinari empat pemuda kekar itu. Pemuda harapan bangsa Papua Barat. Pemuda pemilik pulau Cenderawasih dan ribuan emas, perak, berlian, permata dan uranium itu.


Mereka mulai mabuk akibat beribu-ribu butir alkohol yang masuk dalam tubuh yang, akhirnya mempengaruhi syaraf mereka. Sehingga mereka lupa kalau ribuan butir emas, perak, berlian, permata dan uranium itu di rampok habis oleh para perampok sekaliber jaringan Internasional, di kala mereka mabuk berkepayangan.

Mereka benar-benar berkepayang oleh butir-butir perusak saraf itu. Mereka bahkan tidak lagi mengenali dirinya sendiri.


“Ribuan butiran alkohol itu menjadi alat tukar dengan ribuan butiran emas dan berlian, kini”, pikirku sedih.

Aku masih berdiri di sudut taman itu dan mataku tertuju pada orang-orang itu.Tiba-tiba saja aku di sapa oleh suara lembut dari arah sampingku yang membuatku agak kaget.“Malam kk, kk lagi apa kah?, seperti suara perempuan.


Aku balik ke arahnya dan melihatnya. Ia orang asing bagiku. Namun ia mendekat ke arahku. Matanya tersusuk. Sepertinya ia sedang dalam kecemasan.

“Malam juga ade, sa lagi sante-sante saja di sini. Ru ade sendiri bikin?”


“Sa ada cari kk laki-laki dia ni. Tadi dia bilanig, dia ada mo ke taman Gizi sini jadi, makanya sa datang cari dia disini.” suaranya melemah.


“Sa juga tra tau ne, ade. Tapi klo disini su malam jadi trada orang yang jalan-jalan , cuma empat orang di panggung sana itu saja yang ada mabuk.”

“Sa cek dia disana dulu e....kk, siapa tau dia juga gabung sama dong disitu.”

“Iyo sudah ade, hati-hati e,,,”


Si gadis itu mulai berjalan ke arah panggung itu. Tempat mereka menikmati nikmatnya alkohol dengan di iringi riuh gemuruh hempasan ombak yang silih berganti.Tidak berselang lama, si gadis pemilik rambut ikal itu melewati di samping lingkaran keclil yang di bentuk empat lelaki dengan beberapa botol ditengahnya, seolah mereka sedang bersujud pada seorang Tuan atau Raja.


“ Tanpa di umpan, ikan pun datang sendiri”, tutur salah seorang dari mereka sambil berdiri dan menghampiri si gadis rupawan itu.

Dengan dipengaruhi oleh alkohol, ia pun mulai menggoda perempuan berlipstik tipis dan berjelana levis ketat itu.

“ ko mo kemana nona manis....? duduk gabung sama tong minum barang ini dulu. Barang enak ini ko mau lewatkan kah?” ajak lelaki itu.


“Ahh...kam gila ka. Sa tra mau minum. Sa ada cari sa pu pace ni, bukan kamorang....”, tutur si gadis itu sambil melepaskan tangan lelaki yang di pegangnya itu.Namun, keempat pace itu terus memaksanya dan akhirnya si gadis yang mengkalungkan noken anggrek kecil di lehernya itu terpaksa meng-iya-kan keinginan mereka.


Hanya beberapa gelas minuman beralkohol saja, mampu melumpuhkan dan membuat tidak berdaya si gadis yang mulai terurai beberapa helai rambut di dahinya itu, dan akhirnya ia tergeletak lemas di tengah-tengah mereka.Sudah kesempatan bagi mereka untuk melakukan apa saja yang mereka mau terhadap si gadis tak berdaya itu.


Dunia terasa indah untuk di tinggali bagi mereka. Kedatangan gadis itu bagaikan keajaiban ke_delapan bagi mereka.Mereka bagai singa lapar yang sedang memangsa mangsanya dengan brutal. Mereka memaksa tak berperi_kemanusiaan terhadap gadis kurus tinggi itu.


Seolah berada dalam naraka bagi gadis itu.Suara rintihan gadis itu pun mulai meredah perlahan-lahan seiring satu per satu menjauh dari gadis malang itu.Setelah mereka bosan dan puas memperlakukan tindakan tak senonoh terhadap gadis itu, mereka kembali melanjutkan aktivitas minumnya.


Ayam berkokok terdengar dimana-mana dan Mesjid di seberang sana pun mengkumandangkan ayat-ayat suci Alquran , petanda hari sudah subuh.Beberapa botol itu rupanya masih penuh terisi oleh alkohol. Dan mereka masih sedang menikmatinya secara klasik.


Di sela-sela itu, satu dari mereka mengangkat kedua tangan si gadis malang itu untuk memberdirikannya supaya, dapat mengantarkannya hingga ke depan jalan besar.sesampainya di jalan besar, pace kribo itu memberehentikan ojek yang sedang mencari penumpang di area oyehe. Ia menaikan gadis itu di atas motor dan memberinya 50 ribu untuk ongkos ojek, namun gadis itu menolaknya uang pemberiannya.


“ Saya tidak butuh uang kalian, dan itu tidak penting buat saya. Yang terpenting untuk kalian ketahui adalah bahwa, kalian pun sudah mendapatkan 3 huruf alias ( HIV/AIDS) dari saya. Jadi, selamat pulang dan menyebarkan 3 huruf ini ke keluarga kalian masing-masing”, tutur si gadis itu sambil melaju dengan si mas ojek.........


Ketika mendengar kata-kata dari gadis itu, lelaki itu seolah di sambar petir. Ia sepertinya sadar tiba-tiba dari kemabukannya. Ia hanya terpaku bingung pada tempatnya. Tidak melangkah atau bersuara. Ia diam seribu bahasa. Hanya beberapa butir keringat yang nampak bercucuran di dahinya.


Tapi percuma, tiga huruf itu sekarang sedang ikut bersirkulasi dengan darahnya. Saat itu juga mereka sudah menjadi anggota tetap dalam lingkarang ‘Pengidap 3 huruf’.Pace itu tidak lagi kembali kepada ketiga kawannya namun, ia terus saja berjalan kaki ke arah siriwini. Ia melangkah pelan dan menghilang dalam samar-samar pandangku.


“Jadi, kalau virus dengan berlabel 3 huruf ini, penyebarannya semudah dan secepat ini, maka benar kata para aktivis dan pemerhati kehidupan orang Papua bahwa“ 2030 orang Papua akan habis alias punah “, dan itu memang realita yang akan kita alami.......,”batinku sambil menundukan kepalaku.


Negara-negara yang punya kepentingan atas kekayaan alam Papua sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan kepunahan ini, dan sedang gelisah untuk memperebutkan pulau mirip burung cenderawasih ini dalam genggaman mereka seutuhnya.....Kalau bisa, mari kawan-kawanku kita sadar dan meniggalkan semua itu! Dan memulai hidup yang baru tanpa alkohol.


Karena mereka berharap manusia Papua cepat habis dan kekayaan Papua tidak cepat habis.......!

Untuk meng-gagalkan atau meng-amin-kan anggapan dan pemikiran mereka atas Tanah Papua ini, tergantung pada sikap kita orang Papua Barat itu sendiri.


“ALKOHOL singkatan dari (ALah Kutuk Orang yang Haus akan alkohol"


Penulis,Fery Tebai adalah mahasiswa papua kuliah di Bandung
komentar | | Read More...

Bakar Batu Di Balik Gunung Wogei

Penulis : methu badii on 18 Jan 2015 | 23:34

“batal  rencana buat kebun, kami hanya bakar batu, tutur darmince sambil ceritakan kisah Darmince dkk sejak remaja"

Pagi itu, hari mulai cerah namun dinginnya itu terasa,ketika sejumlah perempuan berada di pinggir jaln setapak,sekitar kampung awabutu  yang tidak jauh dari Enarotali,ibu kota kabupaten paniai,papua.

Darmince TEMANnya Otopince,Ajak teman lain,Melince dan Merry   pergi buat kebunnya dibalik gunung wogei,

"mereka kesulitan uang, untuk belanja"

Otopince,  curi uang  didompet bapaknya dirumah,dengan uang hasil curian itu,mereka beli  nasi bungkus, korek gas dll,

Halow..mau beli…?kata otopince sambil ketuk pintu kios, yang terletak di kota enarotali,
Mau beli apa…?tanya mas asal jawa itu,nasi 4 bungkus dan 1 korek gas, jawab otopince,
harganya berapa ya..?tanya otopince,nasi sebungkus,Rp 10.ribu,dan korek gas Rp. 2ribuh,

 ok,mass tolong kantongin ya,tutur otopince sambil kasih,100 ribuh satu daun”uang curian didompet bapanya,hahhaha  

setelah,beli makan dan lainya,Darmince dan Otopince, Meri dan Melince, mereka mulai berangkat dari kampung awabutu  ke kebun  yang terletak di balik gunung wogeii,

hiruk pikuk dalam perjalanan.?
 Jalan berbatuan dan rawa-rawa serta tebing, mereka lalui, namun tidak ada yang lolos dari hiruk-pikuknya…!!!
 adoh..adoh….kata Meri,karena kakinya terantuk di batu,makanya  jalan baik2 to, tutur Darmince, teriakinnya,haha

perjalanan jauh, ketika kami lalui rawa-rawa terdengar ,aduh tidakkk…teriak Darmince, tiba2 karena kakinya tersungkur lumpur, dalam rawa-rawa.
yesskottt…teriak otopince saat melewati tebing,ah kawan..kenapa Tanya Darmince,saya  digigit linta darat kawan, jawabnya, lemass..

Istirahat sejenak di gunung wogei.?
 perjalanan jauh,sampai dekat  gunung wogei, mata hari mulai bersinar, kami langsung  ke bukit, jemur badan sambil makan nasi lapis ayam yang dibeli otopince,

ayoh kawan2, kita jalan sudah, lama dit4 ini,mau buat kebun,siang2 itu tidak bagus,kepanasan nanti,ajak Darmince,

perjalanan  mereka di hiasi dengan canda serta tawa,ketika memandang arah  kebun,disana tampak,rumah kecil di pinggir kebun, milik mama otopince,

kumpul kayu untuk bakar batu.?
hii,kawan-kawan, sambil jalan,kita kumpul kayu kering, biar kita bakar, ubi,ajak Otopince,
ok sudah, jawab melince dan meri,sambil kumpul kayu kering yang ada dipinggir jalan,

tidak terasa,sampai dikebun, mereka langsung ke tone-owa,istirahat sejenak disana, otopince keluarkan ayam potong dari tasnya,

wah…tadi kamu beli ayam lagi ee? kaget darmince dkk karena saat otopince beli ayam tanpa ketahui teman yang lain,

Batal buat kebun.?
ah…kita masak-masak saja,bikin kebun itu, lain kali saja, kata Darmince,ajak teman lain, batalkan tujuan datang ke kebun,
akhirnya mereka sepakat,batal rencana mau buat kebun,mereka hanya mau bakar batu,

 kami bagi tugas sudah,kata seorang temannya, otopince dan Melince, cari sayur dan gali ubi,sementa,mery dan darmince pasang api,setelah semua bahan terkumpul, mereka mulai barapen,

adoh…ogema...mau potong ayam…trada pisau ini….kata darmince, oh pisau ada, potong ayam cepat sdh,tutur otopince  sambil serahkan pisau yang diambil dalam sudut rumah itu,

Mulai barapen.?
mereka kerjakan sesuai tugas yang dibagi sebelumnya, yang lain,potong ayam potong, yang lain lagi bakar batu,mereka bungkus ubi,sayur, ayam potong itu pake daun pisang, 

bungkusan bapane dibiarkan, 20 menit kemudian, uap berbauh aroma daging ayam tercium dihidung,senyum campur semangat ketika baku tatap darmince dkk…!!

buka bungkusan barapen, rasanya waoooo….sayur tampak berminya…lemak ayam berpindah ke sayur…seperti ayam rebus bersama sayur di kuali… telan air luda seketika…
hahha

usai, buka bungkusan barapen, mereka bagi dan menikmati,sambil cerita, canda,tawa, saat itu sulit kendalikan kwkwkw

seharian, hanya masak-masak saja,tidak bikin kebun sesuai rencana,sorenya mereka pulang, ke kampung awabutu, enatotali,!!
 ....,
cerita pendek ini, dipaparkan Darmince Nawipa melengkapi tugas yang diberikan oleh Andreas Harsono,seorang instruktrur kusrsus jurnalis sastrawi  di  yayasan pantau,kebayoran lama,Jakarta.selama 2 minggu, mulai 5-17 januari 2014,


foto diatas adalah,,Darmince Nawipa,Methu Badii dan ibu Jannet, Dosen Jurnalis Sastra, sebuah Universitas di Amerika Serikat dan Menjadi Instruktur Kursus Jurnalis Sastra di Yayasan Pantau, 


Penulis Pemula :MethuCs
komentar | | Read More...
Diberdayakan oleh Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section

Page

About

Google+

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. MethuCs . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger